;UGK
tiga batang lilin yang kau berikan, masih tertancap pada meja
saat gulita malam masih mengepung dan lentera minyak yang belum juga di hidupakan
sungguh terasa begitu berat tak bercahaya. cahaya yang ada tak lagi ada namun bila
ada pun takkan mengubah suasana
tiga batang lilin yang menyala semakin habis pula
saat larut semakin lama berjaya. tak seorangpun datang dengan obornya untuk
menggantikan nyala lilinya. anak yang riang semakin menghilang dan tak lagi berkata
mereka sibik dengan bantal dan sebagian duduk berjaga
sambil memandangi bintang yang bercahaya. tak seperti rembulan yang asyik dengan
sepertiga malam untuk mengantar pada garis subuh
garis yang paling ditunggu dari sekian waktu. gelap ini semakin pekat pula bila cahaya lilin
semakin hilang dan rasa ngantuk semakin menyerang. tak ada lagi kegiatan, tak ada pula
yang akan menerangi selain cahaya kilau surya pada garis subuh.
Pauh, 1 Juni 2010
Terbit di Singgalang Kolom Puisi, Minggu 26 September 2010
Minggu, 08 Mei 2011
Tanah Talang, Awal mengais keindahan
Aku berharapa pada hujan, lagi-lagi berjalan pada serentetan rintik di tengah jalan. Aku tahu memang jalan yang ditempuh makin berlubang. Cuma dari beberapa jalan yang tidak menggenang dan orang-orang yang mengabadikan diri pada dewa penguasa kehidupan. Dan akupun terdiam dalam kebisingan orang-orang dalam yang suka akan hujan.
Namun keindahan ibaratkan lenyap sirna. Tak secarik pun yang membekas dalam tanah talang. Di mana kekanak dan dedewasa mencari dan menantikan azan subuh. Di saat matahari mulai terbit untuk pertama kali. Dan tak ada satupun lintang bayang yang menyusuri tanah talang.
Masih saja tentang tanah talang. Aku dan serentetan padi ampo yang setia menunggu hujan. Musim dimana merasa iba pada para petani mencari anugerah. Maka dibatas tanah ini, aku mengikat dan aku melekat pada keindahan yang menanti hujan.
Muara Bungo, 2010
Terbit di Singgalang Kolom Puisi, Minggu 26 September 2010
Namun keindahan ibaratkan lenyap sirna. Tak secarik pun yang membekas dalam tanah talang. Di mana kekanak dan dedewasa mencari dan menantikan azan subuh. Di saat matahari mulai terbit untuk pertama kali. Dan tak ada satupun lintang bayang yang menyusuri tanah talang.
Masih saja tentang tanah talang. Aku dan serentetan padi ampo yang setia menunggu hujan. Musim dimana merasa iba pada para petani mencari anugerah. Maka dibatas tanah ini, aku mengikat dan aku melekat pada keindahan yang menanti hujan.
Muara Bungo, 2010
Terbit di Singgalang Kolom Puisi, Minggu 26 September 2010
Singkong Bakar
Singkong Bakar
Lezat, bila daging putihmu melewati tenggorokanku
tidak terasa sudah dua piring terlewatkan
bila nikmatnya dirimu bersama kopi manis itu;
sedap, ucapan kedua kalinya menghabiskan tiga piring dirimu
barangkali sebagian orang menghinamu
tapi tak seperti diriku
bentuk isimu yang putih itu
menggambarkan sifat tulusmu
kantong perutku kan mengatakan
‘terima kasih buat jasamu’
juga kantong celanaku kan terisi oleh pengorbananmu
Padang, 03 April 2010
Lezat, bila daging putihmu melewati tenggorokanku
tidak terasa sudah dua piring terlewatkan
bila nikmatnya dirimu bersama kopi manis itu;
sedap, ucapan kedua kalinya menghabiskan tiga piring dirimu
barangkali sebagian orang menghinamu
tapi tak seperti diriku
bentuk isimu yang putih itu
menggambarkan sifat tulusmu
kantong perutku kan mengatakan
‘terima kasih buat jasamu’
juga kantong celanaku kan terisi oleh pengorbananmu
Padang, 03 April 2010
Sajak Batang Bambu
Batang I
hari ini untukmu, ingatkan aku pada lambaian daun
siapa pun bisa saja berjalan dalam sela-sela belukar
pemburu menembaknya sampai di ujung senapang
lagipula perburuan itu seperti api dan asap, kental
hari esok kita terjaga, walau sembuh luka itu masih berasa
bagaikan tali yang selalu direntangkan, panjang dan padat
membujur dari pucuk akasia sampai kepucuk kelor
barusan saja. detik ini dalam nyala api aku temukan mahkota
serta sejadah usang lewat tengah malam
hanya sebuah pertanda.
Batang II
senyum-senyum itu seperti pengembara
menari-nari bagai bunyi jangkrik
sehabis magrib engkau taburkan melati, sungguh harum
tapi baunya hanya sementara
tak ada lagi wajah tirani yang mengintip dalam nada
Batang III
di sela-sela pohon bambu berlumut
dia tertawa, mengembangkan muka
dan ketika masa itu hilang, ia tertawa dalam murka tanah
mengenali bau lumpur, kulit kayu dan akar
menyimpan kekosongan, ini memusat pada satu titik temu
membentuk putaran jam, satu jam lagi!
isaratkan hati?
pantaskah
Padang, November 2010
Terbit di Padang Ekspres halaman Puisi, Minggu 20 Maret 2011
hari ini untukmu, ingatkan aku pada lambaian daun
siapa pun bisa saja berjalan dalam sela-sela belukar
pemburu menembaknya sampai di ujung senapang
lagipula perburuan itu seperti api dan asap, kental
hari esok kita terjaga, walau sembuh luka itu masih berasa
bagaikan tali yang selalu direntangkan, panjang dan padat
membujur dari pucuk akasia sampai kepucuk kelor
barusan saja. detik ini dalam nyala api aku temukan mahkota
serta sejadah usang lewat tengah malam
hanya sebuah pertanda.
Batang II
senyum-senyum itu seperti pengembara
menari-nari bagai bunyi jangkrik
sehabis magrib engkau taburkan melati, sungguh harum
tapi baunya hanya sementara
tak ada lagi wajah tirani yang mengintip dalam nada
Batang III
di sela-sela pohon bambu berlumut
dia tertawa, mengembangkan muka
dan ketika masa itu hilang, ia tertawa dalam murka tanah
mengenali bau lumpur, kulit kayu dan akar
menyimpan kekosongan, ini memusat pada satu titik temu
membentuk putaran jam, satu jam lagi!
isaratkan hati?
pantaskah
Padang, November 2010
Terbit di Padang Ekspres halaman Puisi, Minggu 20 Maret 2011
Nilam
; Dedy Arsya
Hari ini baru saja basah,
Sisa hujan, angin, serta ranting nan patah
Matahari sepertinya mengintip merayap-rayap
Pinang dan segerombolan pohon tebat
Hilang di belantara suara
Daun-daun melambai
Jauh berjatuhan ke liang sunyi
Getar rumput di sekitar mata kaki
Seperti kobaran api lilin
Di tengah kelam, yang kau tanam
Tumbuh tapak-tapak nilam
Ia berdiri,
Ia berlari
Biarkan pematang hijau berjalan
Serta seretan
Yang kau tanam.
Padang, Januari 2010
Terbit di Padang Ekspres halaman Puisi, Minggu 20 Maret 2011
Hari ini baru saja basah,
Sisa hujan, angin, serta ranting nan patah
Matahari sepertinya mengintip merayap-rayap
Pinang dan segerombolan pohon tebat
Hilang di belantara suara
Daun-daun melambai
Jauh berjatuhan ke liang sunyi
Getar rumput di sekitar mata kaki
Seperti kobaran api lilin
Di tengah kelam, yang kau tanam
Tumbuh tapak-tapak nilam
Ia berdiri,
Ia berlari
Biarkan pematang hijau berjalan
Serta seretan
Yang kau tanam.
Padang, Januari 2010
Terbit di Padang Ekspres halaman Puisi, Minggu 20 Maret 2011
Kau Lahirkan Sajak Sebait
kau lahirkan sajak dalam kehidupan bergejolak
saat putaran waktu terhenti berdetak
sajakku kan menuntunmu pada liang penghujungmu kelak
Padang, 29 April 2010
Terbit di Singgalang Kolom Puisi, Minggu 26 September 2010
saat putaran waktu terhenti berdetak
sajakku kan menuntunmu pada liang penghujungmu kelak
Padang, 29 April 2010
Terbit di Singgalang Kolom Puisi, Minggu 26 September 2010
Kau Bukanlah Engkau
setitik jiwa berakit ke hulu fana
menembus butiran embun senja
melintasi benang-benang mimpi
menapak tegap di lumpur derita
wajah kemerah-merahanmu masih teringat di mataku
sikap ketenangan berdiam pada kalbu
hiruk pikuk takkan mengubah arti
perubahan mungil duduk bersandar pada diri
siapakah engkau sekarang
jiwamu abu di sisa pembakaran
jilatan kobar mengubah keadaan
keadaan berubah menjadi gersang
gejolak apa yg menyusup jauh
hilang jauh termakan zaman
tak ada sedikit perubahan
keadaan mengubah arah jalan
November 2009
Terbit di Padang Ekspres Kolom Remaja, Minggu 31 Oktober 2010
menembus butiran embun senja
melintasi benang-benang mimpi
menapak tegap di lumpur derita
wajah kemerah-merahanmu masih teringat di mataku
sikap ketenangan berdiam pada kalbu
hiruk pikuk takkan mengubah arti
perubahan mungil duduk bersandar pada diri
siapakah engkau sekarang
jiwamu abu di sisa pembakaran
jilatan kobar mengubah keadaan
keadaan berubah menjadi gersang
gejolak apa yg menyusup jauh
hilang jauh termakan zaman
tak ada sedikit perubahan
keadaan mengubah arah jalan
November 2009
Terbit di Padang Ekspres Kolom Remaja, Minggu 31 Oktober 2010
Jenjang Terlupakan
keras…
ucapan pantas
melintas bukanlah hal yang pantas
getaran ujung tangkai
berpusar pada satu akar
mendengkur teratur
jelek…
memijak tak berperasaan
riang orang terlepaskan
langkah takkan banyak
tulang utama merapuh
bersikeluh di ambang kerapuhan
Karolin, 13 Maret 2010
Terbit di Padang Ekspres Kolom Remaja, Minggu 17 April 2011
ucapan pantas
melintas bukanlah hal yang pantas
getaran ujung tangkai
berpusar pada satu akar
mendengkur teratur
jelek…
memijak tak berperasaan
riang orang terlepaskan
langkah takkan banyak
tulang utama merapuh
bersikeluh di ambang kerapuhan
Karolin, 13 Maret 2010
Terbit di Padang Ekspres Kolom Remaja, Minggu 17 April 2011
Esok Lusa Kumenunggu
Hujan telah reda,
Kamar ini masih terdengar indang dimulai
Menyayikan ratapan si anak pisang
Barangkali ia lupa akan almanak
Ada lingkaran tanggal, tepat pada angka itu
Dicuretnya dengan warna hati dan dituliskan “ kumenunggu”
Sampai habis indang, dia tetap menatapi jemu
Pada almanak, kelihatannya ia terpisu
Ia tak tahu sampai kapan harus menunggu, dalam lingaran warna hati
Padang, Batas November 2010
Terbit di Padang Ekspres halaman Puisi, Minggu 20 Maret 2011
Kamar ini masih terdengar indang dimulai
Menyayikan ratapan si anak pisang
Barangkali ia lupa akan almanak
Ada lingkaran tanggal, tepat pada angka itu
Dicuretnya dengan warna hati dan dituliskan “ kumenunggu”
Sampai habis indang, dia tetap menatapi jemu
Pada almanak, kelihatannya ia terpisu
Ia tak tahu sampai kapan harus menunggu, dalam lingaran warna hati
Padang, Batas November 2010
Terbit di Padang Ekspres halaman Puisi, Minggu 20 Maret 2011
Daun di Ujung Pisau
Seperti daun ada yang hanya tumbuh dari pucuk, pucuk yang dari dirimu.
Aku sang pemotong kuncup yg tak sempat menuai benih.
Seperti daun merindu ujung pisau, tergores lirih putus perih.
Pedih pula kuncup yang akan lupa pada batang.
Dan batang yg menanti dalam benih
Jendela, bataskota 2010
Terbit di Padang Ekspres Kolom Remaja, Minggu 17 April 2011
Aku sang pemotong kuncup yg tak sempat menuai benih.
Seperti daun merindu ujung pisau, tergores lirih putus perih.
Pedih pula kuncup yang akan lupa pada batang.
Dan batang yg menanti dalam benih
Jendela, bataskota 2010
Terbit di Padang Ekspres Kolom Remaja, Minggu 17 April 2011
Langganan:
Postingan (Atom)