Minggu, 08 Mei 2011

Sajak Batang Bambu

Batang I
hari ini untukmu, ingatkan aku pada lambaian daun
siapa pun bisa saja berjalan dalam sela-sela belukar
pemburu menembaknya sampai di ujung senapang
lagipula perburuan itu seperti api dan asap, kental

hari esok kita terjaga, walau sembuh luka itu masih berasa
bagaikan tali yang selalu direntangkan, panjang dan padat
membujur dari pucuk akasia sampai kepucuk kelor

barusan saja. detik ini dalam nyala api aku temukan mahkota
serta sejadah usang lewat tengah malam

hanya sebuah pertanda.


Batang II
senyum-senyum itu seperti pengembara
menari-nari bagai bunyi jangkrik
sehabis magrib engkau taburkan melati, sungguh harum
tapi baunya hanya sementara


tak ada lagi wajah tirani yang mengintip dalam nada


Batang III
di sela-sela pohon bambu berlumut
dia tertawa, mengembangkan muka
dan ketika masa itu hilang, ia tertawa dalam murka tanah
mengenali bau lumpur, kulit kayu dan akar
menyimpan kekosongan, ini memusat pada satu titik temu
membentuk putaran jam, satu jam lagi!

isaratkan hati?
pantaskah

Padang, November 2010


Terbit di Padang Ekspres halaman Puisi, Minggu 20 Maret 2011