Aku berharapa pada hujan, lagi-lagi berjalan pada serentetan rintik di tengah jalan. Aku tahu memang jalan yang ditempuh makin berlubang. Cuma dari beberapa jalan yang tidak menggenang dan orang-orang yang mengabadikan diri pada dewa penguasa kehidupan. Dan akupun terdiam dalam kebisingan orang-orang dalam yang suka akan hujan.
Namun keindahan ibaratkan lenyap sirna. Tak secarik pun yang membekas dalam tanah talang. Di mana kekanak dan dedewasa mencari dan menantikan azan subuh. Di saat matahari mulai terbit untuk pertama kali. Dan tak ada satupun lintang bayang yang menyusuri tanah talang.
Masih saja tentang tanah talang. Aku dan serentetan padi ampo yang setia menunggu hujan. Musim dimana merasa iba pada para petani mencari anugerah. Maka dibatas tanah ini, aku mengikat dan aku melekat pada keindahan yang menanti hujan.
Muara Bungo, 2010
Terbit di Singgalang Kolom Puisi, Minggu 26 September 2010